Feeds RSS
Feeds RSS

Kamis, 27 Mei 2010

TAMAN RUSA ISIPATANA

Pernahkah kita merenung tentang kehidupan ini? Kehidupan yang selalu
berubah dan selalu tidak memuaskan kita. Apa yang manusia harapkan
terkadang tidak menjadi kenyataan. Manusia dibelenggu oleh
ketidakpuasan batiniah. Kehidupan manusia menjadi tidak bahagia. Batin
manusia terkoyak oleh realita kehidupan yang tidak terbantahkan.
Manusia tenggelam pada lamunan dan hayalan. Manusia berontak tat kala
realita ada dihadapannya. Ada sebagian orang yang mencari sumber dari
segala ketidakpuasan batin namun terkadang mereka salah melakukan
tindakan hingga mereka terus terjerumus pada ketidakpuasan batiniah.
Banyak orang berpikir dan bertanya dalam dirinya sendiri, “untuk apa
saya hidup dan kemana saya harus melangkah?” Manusia berada
dipersimpangan jalan dan selalu berhadapan dengan ketidakpastian.

Ada yang menarik yang terjadi ribuan tahun yang lalu, tepatnya di
Taman Rusa Isipatana di dekat Kota Baranasi pada hari purnama di bulan
Asalha. Pada waktu itu, setelah Sang Bhagava mencapai penerangan
sempurna Beliau memutar Dhamma untuk pertama kalinya kepada lima orang
pertapa. Kelima orang pertapa ini adalah kawan Beliau saat melakukan
peryapaan menyiksa diri. Sang Buddha menguraikan Empat Kebenaran Mulia
yaitu: Hidup ini dukkha, Sumber dari dukkha, Lenyapnya dukkha, Jalan
menuju lenyapnya dukkha.

Setelah Sang Buddha menguraikan Empat Kebenaran Mulia ini, kelima
orang pertapa memahami dan mencapai tingkat kesucian, dan kemudian
ditahbiskan menjadi bhikkhu. Pada saat itulah Mustika Sangha muncul
untuk pertama kalinya. Pemahaman yang luar biasa dan tidak sembarang
orang memperoleh Mata Dhamma seperti kelima orang pertapa tersebut.
Kelima orang pertapa adalah manusia yang memiliki potensi dan kualitas
batin yang tinggi. Dengan dasar itulah kelima orang pertapa mudah
memahami empat kebenaran mulia.

Dengan dibabarkannya Dhamma untuk pertama kalinya di Taman Rusa
Isipatana dan dapat dipahami oleh lima orang pertapa berarti ada
sebuah kepastian bahwa manusia bisa terbebas dari belenggu
ketidakpuasan batiniah. Ketenangan, kedamaian, dan kebahagian yang
diharapkan bisa dicapai. Sebuah kepastian yang memberikan secercah
harapan bagi manusia bak mentari pagi yang memberikan terang dan
kehangatan dalam kehidupan ini. Untuk mencapai harapan itu tentunya
tidak semudah membalikan telapak tangan. Semua orang harus bekerja
keras dalam berjuang.

Secara sepintas, apa yang disampaikan oleh sang Buddha kepada lima
orang pertapa sangat sulit dimengerti dan bahkan bisa disalahartikan.
Sang Buddha adalah seorang tokoh yang dengan terang-terangan
menyatakan bahwa kehidupan ini adalah dukkha. Banyak orang yang
beranggapan bahwa ajaran Buddha adalah ajaran yang mengajak umatnya
untuk pesimis. Anggapan bahwa ajaran Buddha adalah pesimis, loyo, dan
hanya mengajarkan kepasrahan tentunya tidak benar. Mereka hanya
sepintas dan tidak memahami lebih mendalam dan kemudian mengklaim
secara membuta. Pernyataan bahwa kehidupan ini adalah dukkha tentunya
bukan tanpa dasar. Pernyataan Beliau juga tidak berhenti pada
pernyataan yang pertama tetapi disusul dengan pernyataan berikutnya.
Sang Buddha tidak hanya mengajarkan tentang dukkha saja tetapi juga
mengajarkan bahwa dukkha itupun ada sumbernya, dukkha bisa dilenyapkan
dan ada jalan menuju lenyapnya dukkha.

Jika kita telusuri dan pahami dengan benar empat kebenaran mulia
adalah solusi untuk menghadapi kehidupan ini. Metode yang luar biasa
dan sangat jitu untuk menghadapi permasalahan kehidupan yang semakin
hari semakin komplek. Hanya saja banyak orang yang enggan dan merasa
sulit memahami empat kebenaran mulia. Banyak orang yang masih
beranggapan bahwa hidup ini adalah untuk menikmati keduniawian.
Manusia tenggelam dalam kenikmatan duniawi dan seolah-olah duniawi ini
kekal. Pandangan seperti ini seharusnya dihapus karena akan semakin
menjerumuskan manusia.

Kehidupan yang serba cepat dan praktis sangat mempengaruhi pola pikir
manusia. Manusia menginginkan yang serba cepat dan mudah. Dalam bidang
spiritual pun mereka berharap sesuatu yang serba cepat dan praktis.
Banyak orang yang akhirnya terjebak oleh promosi ajaran yang serba
cepat dan praktis. Untuk merubah pola pikir dan mendapatkan kualitas
batin tidak bisa instant. Semuanya harus dicapai dengan perjuangan.
Dalam berjuang seseorang juga akan berhadapan dengan berbagai
tantangan dan kesulitan. Hal inilah yang membuat manusia terkadang
jenuh meniti kehidupan spiritual dan lebih memilih sesuatu yang
dianggapnya bisa menyembuhkan penyakit mentalnya secara instan.
Kenikmatan duniawi lebih dipilih dibandingkan kehidupan spiritual.

Tidak heran jika penyakit mental kian membelenggu manusia. Banyak
orang yang menderita stress, depresi, dan putus asa menghadapi
kehidupan ini. Hal ini terjadi karena manusia sering melupakan
kebenaran dan mencari kebenaran menurut dirinya sendiri.

Bukannya solusi yang didapatkan tetapi dukkha yang didapatkannya. Manusia
seringkala mempermasalahkan masalah dibandingkan menyikapi masalah.
Manusia tidak lagi menggunakan kebenaran dalam mengatasi permasalahan
kehidupan tetapi menggunakan pembenaran. Harapan untuk hidup tenang,
damai, dan bahagia tidak kunjung mereka dapatkan karena ulah mereka
sendiri.

Sang Buddha sudah menemukan obat untuk menyembuhkan manusia dari
belenggu dukkha. Kita diajak untuk memahami empat kebenaran mulia.


Cara berpikir dalam melihat kehidupan harus lebih obyektif, bahwa
segala sesuatu yang muncul karena perpaduan faktor pembentuk
sewajarnya mengalami kehancuran. Untuk bisa memahami realita kehidupan
ini memang tidak mudah tetapi harus berusaha memahaminya. Banyak hal
yang harus dilakukan untuk bisa memahami empat kebenaran mulia.

Dengan belajar dan praktek Dhamma maka kita akan menembus empat kebenaran. Sebuah kepastian yang telah disampaikan oleh Sang Buddha hendaknya dapat dijadikan sebagai bahan untuk memotivasi dalam berjuang. Obat sudah ada tinggal kita yang harus meminumnya. Jalan sudah ditunjukkan
tinggal bagaimana kita melaluinya.

Rakit sudah ada dihadapan kita
tinggal bagaimana kita menggunakannya. Sebuah kepastian yang
seharusnya jangan disia-siakan. Jika kita terus membuang waktu maka
hidup kita akan berakhir sia-sia tanpa sebuah kepastian

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar